Jumat, 29 September 2017

CINTA antara Ketegasan dan Kelembutan

CINTA
antara Ketegasan dan Kelembutan


Dialah sosok yang berhati lembut nan memiliki akhlak yang mulia. Abu Bakar Ash Shidiq, khalifah yang ditunjuk kaum muslimin sepeninggal Rasulullah SAW wafat. Abu Bakar terkenal akan kedermawanannya dan kekokohan aqidahnya dikalangan kaum muslimin. Betapa tidak, ia sosok yang sangat cepat meneteskan air mata lagi penyayang terhadap sesama. Dia juga sosok yang selalu menemani perjuangan panjang Rasulullah dikala awal berdakwah yang dipenuhi tantangan dan penyerangan dari berbagai pihak, membersamai saat hijrah, hingga islam menunjukan taringnya (terbela kehormatannya) di belahan negeri Jazirah Arab sampai Rasul SAW wafat. Apa saja yang dilakukan oleh rasulullah, selalu ia teladani dan amalkan tanpa menyisakan satupun amalan yang tertinggal.

Umar bin Khattab yang memiliki kegigihan pun (bahkan dikatakan Syaitan pun takut padanya) merasa “iri” terhadap Abu Bakar dikarenakan kesholihanya. Hingga pada suatu ketika Madinah  dilanda musim paceklik, panas, dan kering pasca perang Hunain.  Saat itu rasulullah sedang mempersiapkan untuk melakukan perlawanan kepada Bangsa Romawi yang dikabarkan akan melakukan penyerangan ke Madinah. Alangkah beratnya pada saat itu ditengah kondisi padang pasir yang sangat panas apalagi untuk melakukan perjalanan jauh., sehingga Rasul membuka peluang berderma bagi para sahabat. Dan masya ALLAH begitu Rasulullah berkata demikian, sambutan para sahabat sangat luar biasa. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan harta yang mereka miliki kepada Rasulullah guna mendukung kepentingan jihad (perang tabuk).

Diriwayatkan bahwa saat itu Usman Bin Affan mendermakan 10.000 dinar, 50 ekor kuda, 300 unta. Umar berencana menyaingi Abu Bakar dengan memberikan setengah dari seluruh harta kekayaan yang ia miliki pada Rasulullah. Tak selang berapa lama, Umar lantar terperangah karena ternyata Abu Bakar justru mendermakan seluruh harta yang ia miliki.

Rasulullah pun sempat bertanya, “Jika engkau serahkan seluruh kekayaanmu, lantas apakah kiranya engkau tinggalkan untuk istri dan keluargamu wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar menjawab , “Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan RasulNya”.

Begitulah Abu Bakar, selalu bersegera dalam kebaikan secara totalitas. Menjadi garda terdepan yang paling siap siaga.

Saat Rasulullah wafat, terjadilah beberapa perdebatan di kalangan kaum muhajirin dan anshar untuk memilih siapa khalifah selanjutnya yang akan memimpin kaum muslim.

Abu Bakar memilih Umar bin Khattab untuk menjadi imam kaum muslimin karena denganya ia memuliakan islam dan umat muslim menjadi percaya diri menunjukkan keislaman di hadapan kaum Qurays.

Umar pun lantas berkata, “Demi Allah, aku maju lalu leherku ditebas, itu lebih aku sukai dari pada memimpin kaum yang didalamnya ada Abu Bakar Ash Shidiq”.

Bergegas Umar maju dan membaiat Abu Bakar, dan seketika suasana perdebatan antara kaum muhajirin dan anshar berubah menjadi cair. Kaum muslimin turut membaiat Abu Bakar
.
Disaat itu Abu Bakar lantas menaiki tangga yang dipergunakan untuk berpidato. Tangga tersebut terdiri atas 3 tingkat. Hanya saja Abu Bakar hanya menaiki dan duduk di tingkat yang kedua karena ia merasa tidak pantas menduduki anak tangga yang paling atas (tempat Rasulullah biasa memberikan khutbah). Ia terdiam sejenak.

Abu bakar menyampaikan pidato singkatnya, “ Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Jika aku berlaku baik maka bantulah aku. Jika aku salah maka ingatkan aku. Orang yang lemah akan jadi kuat sampai aku berikan hak untuknya. Sedang orang yang kuat akan jadi lemah sampai aku ambilkan hak orang lemah atas orang yang kuat ini. taatilah aku selama aku taat pada Allah dan RasulNya. Jika aku durhaka, maka kalian tak perlu taat.”

Begitulah Abu Bakar, sosok yang memiliki jiwa besar. Ia selalu menilai dirinya tidak lebih baik dari orang lain.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Umar masuk ke rumah Abu Bakar. Didapatilah pada saat itu Abu Bakar sedang menangis tersedu-sedu.

Abu bakar, “jangan berikan amanah ini kepadaku wahai Umar, ini adalah beban yang sangat berat”.

Abu Bakar merasakan ini adalah perkara yang berat dikarenakan ia hanyalah manusia biasa yang harus menggantikan kepemuimpinan yang sebelumnya dijabat oleh seorang manusia mulia yang menjadi Nabi sekaligus Rasul SAW.

Tak lama setelah itu muncullah gejolak dari kalangan kaum muslimin terutama yang baru saja masuk islam pasca fathu makkah.

Ada diantara kaum muslim yang menolak untuk membayar zakat. Bagi mereka zakat yang dibayar untuk Rasulullah SAW. Setelah beliau wafat, maka usai sudahlah kewajiban tersebut. Mereka  bahkan tidak segan-segan untuk memprovokasi orang lain untuk tidak taat pada Abu Bakar dan melakukan pemberontakan.

Prihatin akan kondisi penyimpangan yang sedemikian rupa, akhirnya Abu Bakar bertindak, “ Andai saja sekedar seutas tali unta yang biasanya mereka bayarkan untuk rasulullah, dan saat ini mereka enggan untuk membayar, maka akan aku perangi mereka.”

“Bagaimana bisa kita akan memerangi atau menumpahkan darah orang yang telah bersyahadat wahai Abu Bakar?”, Kritik Umar.

“Tidak boleh dibunuh, kecuali dengan haknya,” tegas Abu Bakar.

Saat Abu Bakar akan mengirimkan pasukan yang memerangi para pemberontak yang enggan membayar zakat, Abu Bakar masih membuka ruang musyawarah dari para sahabat. Meski pada akhirnya Abu Bakar tetap akan bersikukuh memegang keputusanya.

Lantas Umar berkata, “Setelah itu Allah SWT melapangkan dadaku untuk mengikuti keputusan Abu Bakar”.

Disini kita lihat ada perbedaan yang cukup kontras antara Umar dan Abu Bakar. Biasanya kita lihat Abu Bakar sebagai sosok yang lembut tapi dalam situasi ini ia tegas. Sedang Umar yang biasanya tegas, dalam situasi ini menjadi lunak dan menyarankan untuk tak perlu memerangi kaum pemberontak.

Pada saat masa Rasulullah Muhamad SAW, tak ada ruang dari Abu Bakar untuk melengkapi. Tersebab kepemimpinan Rasulullah saja sudah nampak sempurna atas karomah dariNYA. Berbeda ketika ia yang memimpin. Ketegasan itu ada.

Ketegasan Abu Bakar juga nampak pada keputusanya memberangkatkan pasukan muslim yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid (saat itu berusia 14 tahun) menghadapi Romawi di Syam atas kehendak Rasulullah sebelum wafat. Padahal disana juga telah berjejer dikalangan pasukan muslim Khalid bin Walid, Usman bin Affan, dan para sahabat senior lainya. Sahabat dikalangan senior kala itu berfikir untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Madinah. Bahkan disaat yang sama Usamah bin Zaid juga menyarankan untuk menarik pasukan ke Madinah saja. Mengingat Madinah kala itu sedang genting dikarenakan banyaknya pemberontakan dan mulai bermunculanya nabi-nabi palsu.

Abu bakar : “Pasukan kaum muslimin harus tetap diberangkatkan ke Syam, tak ada sekecil celahpun untuk menarik diri dari perjalanan ini”.

Umar : “Kalau begitu, bagaimana kalau panglima perangnya (Usamah bin Zaid) diganti saja?”

Abu Bakar menimpali sembari menarik jenggot Umar, “ Demi Allah andai srigala mencabik-cabik sekujur tubuhku, maka aku akan tetap tidak mengubah apa yang Rasul SAW tetapkan”

Abu bakar sama sekali tidak bergeming untuk membuka ruang diskusi disini. Karna jelas bahwa ini wasiat dari Rasulullah SAW.

Di tengah perjalanan menuju Syam, Usamah (panglima perang) yang naik kuda, sedang Abu Bakar berjalan kaki ia mengatakan bahwa, “Wahai Abu Bakar, biarkan saya berjalan diantara pasukan lain dan engkau naiklah ke atas kuda ini”.

Abu Bakar, “ Demi Allah aku tidak akan membiarkanmu turun dan aku tidak akan pernah naik. Biarkan kaki ini lusuh untuk sementara waktu karena berjalan memperjuangkan agamaNYA, dan kelak kaki ini akan jadi saksi saat menapak di Surga”.

Sosok selembut Abu Bakar yang mudah sekali meneskan air mata bahkan tampak begitu tegas pada saat ketegasan itu dibutuhkan. Dan disini Abu Bakar telah mengajarkan pada kita  sebuah Ibrah indah  yang didapat atas ketegasan dan kejeniusan beliau dalam melabuhkan pilihan. Yakni :
Tersebab kegigihan  Abu Bakar tetap memilih untuk memberangkatkan pasukan kaum muslimin melawan Romawi di Syam, meski di Madinah sedang dilanda prahara. Keputusan tersebut rupanya membuat kekhawatiran diantara kaum pemberontak jika melakukan perlawanan kepada kaum muslimin. Karena mereka mengaggap bahwa pasukan muslim itu sangat kuat. Tidak mungkin kaum muslimin akan berangkat ke Syam apabila mereka dalam keadaan lemah pasca meninggalnya rasulullah SAW.

Wallahua’lam bissowab


Ditulis dengan sedikit pengembangan dari penulis atas inspirasi dari kajian sejarah islam bersama Ust. Deden Anjar (Yogya, 26-09-2017)
semoga bermanfaat.

Rabu, 27 September 2017

Diantara Jeda

Diantara Jeda



Diantara Jeda yang tereka
Tersingkaplah tabir demi tabir itu
Membuka bilik ruang tersembunyi
Dan disini
Masih diantara Jeda
Di titik yang tak lagi sama
Kumulai langkah kaki
menapaki tapak demi tapak
Jalan panjang para pejuang itu

Entah.......
Dimanakah muaranya
Dan kemanakah arah angin kan membawa
Biarlah waktu yang selalu bergerak tanpa menanti
Sesiapa saja
Kan jadi jawab atas segala tanda tanya

Senin, 05 Juni 2017

Baper, Laper ?



Aku     : Jodoh itu mirip kaya Yogyakarta
Kamu  : Lho.........Kok bisa?
Aku      : Iya..... I...S..T..I..M..E..W..A.. (eaaa eaaaa)
Kamu   : ettdahhhhh.....situ baper?
Aku      : Enggak bro, cuma laper. wkwkwk


meski tak ku tahu dia siapa
akankah pernah kudengar namanya
ataukah hening tanpa tanda
entah berantah dimana dia berada
mungkinkah kita terpisah jarak seluas samudera
ataukah dia begitu dekat menyapa

yang ku tahu, dia adalah ketetapan yang telah tertulis indah dalam lauh mahfudzNya........

Jumat, 19 Mei 2017

Senyaring Bisikanmu, Ibu

Bisikan Hati Ibu



Anakku
Sini kubisikkan sesuatu. Antara keraguan dan pertanyaan yang mulai menggantung di pelupuk mata. Seiring kau beranjak dewasa. Mungkin begitu banyak jawaban atas pertanyaan yang menunggu. Pun sebanyak itu pula kisah yang ingin kusampaikan padamu.

Sayangku,
Mungkin engkau akan banyak menerka. Seberapa penting posisimu dihati ibu? Apakah ibu benar-benar menyayangimu? Sementara sampai saat ini, nyatanya kata itu tak pernah kau dengar keluar dari bibir ini. Rangkulan hangat tak selalu kau dapat. Ucapan kebanggaan tak mesti kau dengar. Bahkan medan juang yang selama ini kau pertaruhkan nampak “terabaikan”.

Sebelum ibu bercerita akan desir-desir kerinduan dan tenggelam dalam harmoni, ijinkan  aku mengajakmu mengingat. Yahhh mengingat akan sebuah masa indah dimana kamu tak memiliki seorangpun untuk bergantung. Tak ada pelipur dan kawan tempat kau bertandang. Melainkan ibu.

Putriku
Ingatkah kamu, waktu masih belia? Kurengkuh engkau diantara angin yang menyibak mesra. Kugendong dan kurawat dengan kesungguhan.  Kuajarkan padamu bagaimana caranya memanjat diantara pepohonan rindang yang membentang. Padang ilalang bak permadani hijau tak lepas dari arena medan permainan. Pun ikan-ikan yang menjadi hewan buruan. Kau terlihat senang bercengkerama diantara mereka. Sementara, ibu terus memacu daya dalam kerja.

Seiring engkau tumbuh, dikala usiamu menginjak 6 tahun, Ibu antarkan engkau masuk ke sekolah. Tempat peraduanmu dalam mengenal huruf, angka, bait, dan cerita. Saat itu Ibu memang sengaja tidak memasukkanmu ke TK (Taman Kanak-kanak) terlebih dahulu. Maklumlah, tempat tinggal kita DI Desa sangat jauh dari akses pendidikan TK. Terlebih kala itu, jalanan raya hanya beralaskan bebatuan terjal yang ditata. Akses kendaraanpun hampir dipastikan tidak ada. Di hari pertama masuk sekolah itu, engkau tampak gugup dan ketakutan. Barangkali karena belum banyak yang kau kenal dan ketahui disini. Kau merengek dan menahan ibu untuk tinggal di sekolah bersamamu.  Tanpa sadar, kau seret tangan ini dengan erat. Disaat yang sama Ibu tak bergeming. Lantas meninggalkanmu di sekolah tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Kejam???. Yahh mungkin itulah stempel yang akan engkau berikan pada ibu.  Namun asal engkau tahu anakku, itulah cara yang ibu lakukan guna mendidikmu agar menjadi wanita yang berani, Mandiri, dan kuat menghadapi kenyataan.

Dikala kecil, engkau termasuk anak yang agak susah dalam belajar. Engkau terlihat antusias manakala memiliki teman yang mampu kau ajak berenang di sungai, beburu ikan dan burung, bermain petak umpet, ataupun sekedar mbolang di pegunungan. Tak jarang engkau berusaha mengelabui Ibu untuk kabur lewat pintu belakang. Sementara ibu punya banyak cara untuk menahanmu di rumah. Ibu kerap kali memintamu untuk belajar membaca dan menulis. Dengan bujukan hingga paksaan. Derai air mata dan jeritan tangis selalu saja kau keluarkan saat kita bersama. Yahh mungkin saja saat itu kau akan berfikir betapa egoisnya ibu yang selalu memangkas waktu bermainmu Maka meski harus perang batin, Ibu tetap bersikeras  mengajarkan huruf demi huruf, kata demi kata padamu. Karena dengan kemampuan membaca dan menulis itu, ibu berharap engkau bisa menjadi anak yang lebih baik.

Mengajarkan arti pendidikan padamu tidak semudah membalikan telapak tangan. Kerja keras ibu membantumu mengerjakan PR dan belajar, nyatanya tak selalu berbuah manis. Seringkali kau dapatkan nilai 0 (nol) saat duduk di bangku kelas 1 dan 2 SD (Sekolah Dasar). Bahkan sekedar menulis namamu yang amat sederhana pun salah. Ibu sebenarnya tahu  jikalau engkau sering membuang nilai-nilai jelek yang kau dapat di bak sampah sebelum tiba di rumah.  Tak jarang aku memarahi dan menuntutmu untuk belajar lebih giat lagi. Sedang kaupun seperti biasa, pandai mencari-cari alasan pembenaran.

Diusiamu yang ke 7 tahun, barangkali perhatian Ibu padamu sedikit berkurang. Ibu melahirkan seorang bayi laki-laki yang sekaligus menjadi adik kecilmu. Ibu tidak sesering dahulu mengechek PR dan jam belajarmu. Namun ternyata diluar perkiraan, engkau justru kian melejit. Tanpa paksaan dalam belajar, nyatanya kau mulai sadar akan pentingnya belajar. Begitu seterusnya hingga datanglah masa kelulusan SD. Ibu merasa sangat terkejut sekaligus bangga bahwa engkau yang selama ini tak pernah masuk ranking 5 besar di kelas (bahkan pernah berada di urutan ke 27 dari 30 siswa di bangku kelas 1 dan 2), nayatanya bisa menyabet jawara ke 2 predikat nilai terbaik UN dan UAS. Selepas itu, keinginanmu memiliki sepeda onthel pun terwujud atas dukungan dari Bapak karena prestasi itu. Kau pun terlihat sangat bahagia dan akrab sekali dengan Bapakmu. Sedang aku  hanya terdiam, tanpa kata.

Saat memasuki dunia SMP, engkau tidak terlalu banyak berubah. Hanya saja, interaksi dengan  kawan sepermainan mulai berkurang. Kini engkau mulai memiliki lingkungan yang baru. Gadis kecil ibu kini tumbuh menjadi anak yang pendiam. Dibeberapa kesempatan engkau terlihat begitu minder dihadapan teman-teman. Apakah gerangan anakku? Apa yang engkau khawatirkan saat itu?. akankah engkau membutuhkan sahabat untuk bercerita? Ataukah engkau kesulitan bergaul dengan mereka? Sementara aku terlalu sibuk dengan kebun dan sawah. Agaknya itu menjadikanmu kesal padaku. Engkau lebih banyak diam dan enggan untuk bercerita.  Terlebih aku seringkali membandingkan antara kelemahammu dengan kelebihan anak yang lain.

Dibalik sifat pendiam dan mindermu tersimpan potensi yang membanggakan.. Prestasi selama SMP tak pernah absen kau duduki. Engkau selalu masuk ke jajaran kelas favorit dan menduduki ranking terbaik disana. Hingga tiba masa SMK, Ibu sempat merasa putus asa akankah mampu memberikan sokongan biaya sekolah bagimu atau tidak. Namun ternyata, kau tumbuh menjadi anak yang gigih dan berani. Dengan tekad sekuat baja, engkau tunjukkan pada Ibu akan keseriusanmu bersekolah. Engkau bilang bahwa engkau ingin mengukir prestasi dan meraih beasiswa guna meringankan beban Ibu dan Bapak. Tak berselang lama, kejutan demi kejutan engkau pesembahkan. Engkau kerap menjuarai lomba-lomba bidang debat bahasa inggris, olimpiade penelitian dan kompetesi kejuruan dari tingkat Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah hingga Nasional. Saking bangganya padamu, bahkan Ibu tak pernah telat ataupun absen untuk mengambilkan rapor disetiap penerimaanya sejak SD hingga kini. Tak bisakah engkau terka bisikan yang terpampang jelas dalam binar mata ibu, anakku?

1 tahun menjelang masa putih abu-abumu berakhir, ada permintaan darimu yang dahulunya pernah ibu tolak. Saat itu tepatnya tahun 2011. Engkau meminta ijin pada Ibu untuk tinggal di asrama sekolah. Engkau bilang bahwasanya ingin mengemban ilmu agama lebih dalam dan agar aman karena sebentar lagi banyak jadwal les tambahan yang menanti hingga petang.maklumlah kalaupun  memaksakan pulang, tak ada lagi angkutan umum yang masuk ke desa. Awalnya, ibu merasa khawatir dan berfikir jikalau ini hanyalah pelarianmu agar tidak terkekang oleh aturan yang melarangmu keluar malam. Maklumlah, aku hanya khawatir jikalau engkau terjebak pergaulan yang tidak baik. Engkau anak perempuan satu-satunya yang Ibu miliki. Dibalik ketatnya dan kerasnya perlakuaku padamu, tersimpan kasih yang mendalam untuk menjagamu.

Keputusan ibu mengijinkanmu tinggal di asrama agaknya berbuah manis. Menepis segala kegundahan dan keberatan hati yang awalnya berkelana. Engkau kini memutuskan untuk berhijab. bukan hanya di Sekolah, namun juga kala di rumah. Engkau menjadi anak yang lebih santun dan hormat pada orang tua. Engkau juga memilih untuk tidak mengikuti jalan teman-temanmu  yang kebanyakan berpacaran. Dan tahukan engkau nak, Ibu sangat lega. Melihat keteduhan yang engkau pancarkan. Meskipun aku bukanlah sosok ibu yang mampu mendidikmu dan mengajarkanmu bekal ilmu agama. Bahkan mungkin kau sudah bosan karena aku seringkali menjadi penuntut tuntutan sekaligus pelanggarnya. Namun, harus kau tahu anakku, di dalam untaian indah doa yang ibu panjatkan tak pernah berhenti menyebut namamu.

Aku memanglah sosok yang memiliki banyak keterbatasan. Saat masih muda, aku adalah anak yang cerdas. Tersebab kesulitan ekonomi, akhirnya aku harus mengalah. Pendidikanpun hanya tamat sampai  bangku SD. Tapi nak, melihatmu menggebu dan mengukir banyak prestasi menjadikan semangat yang tadinya terkubur, bangkit kembali. Ibu tak ingin engkau mengubur impian indahmu sebagaimana ibu harus merelakan impian masa muda ibu dengan alasan keterbatasan. Yahh… pada akhirnya engkau dengan kegigihan menunjukkan kepada Ibu dan masyarakat di desa bahwasanya engkau bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Cobaan hadir sebagai bentuk karunia Ilahi atas kekuatan iman hambaNya. Di tahun 2015 ibu mendapatkan sedikit cobaan berupa tumor payudara yang sudah akut. Ibu sempat menjalani opname di RSUD selama beberapa waktu. Dikarenakan peralatan yang terbatas akhirnya Ibu dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi untuk menjalani operasi. Disaat itu, engkau tetiba hadir mendampingiku. Meski ku tahu nak, engkau saat itu sedang sibuk dengan seabrek agenda di kampus. Yahhh kuliah di Yogya sangat memforsir waktumu hingga jarang menengok Ibu di kampong halaman. Engkau memutuskan untuk ijin dari kuliah dan mendampingi operasi Ibu sejak awal masuk RS hingga keluar. Betapa saat itu Ibu merasa tenang engkau ada disampingku, Nak. Dan masih sama, aku tak pernah bisa membuatmu mendengarkan apa yang terpendam dalam lubuk hati ini.

Belum genap sebulan setelah ibu keluar dari Rumah Sakit (akhir 2015). Kondisi Ibu belum sepenuhnya pulih. Tetiba Ibu mendapat kabar bahwa engaku jatuh sakit dan harus diopname di salah satu puskesmas di Yogyakarta. Kudengar kondisimu lemah, tak berdaya. Kadar trombositmu bahkan berada dalam skala yang sangat rendah. Saat itu Ibu sangat gugup, khawatir dan takut jikalau terjadi apa-apa padamu. Anjuran makan teratur dari dokter guna minum obatpun Ibu abaikan. Ibu bahkan tidak bisa tidur semalaman. berharap malam kan berlalu dengan lebih cepat. Hanya kondisimu yang selalu terbesit dalam pikiran Ibu. Paginya Ibu memberanikan diri untuk berangkat ke Yogya sendiri. Guna menyusulmu. Merawatmu. Membersamaimu. Duhai anakku. Karena bagiku kesehatanmu adalah jauh lebih penting, melebihi segalanya. Kalau bisa mungkin Ibu lebih memilih untuk menukar rasa sakitmu untuk menjadi sakitku.

Akankah engkau mampu membaca nak? Membaca suara yang tak selalu terdengar oleh telinga, nampak oleh mata namun semestinya bergetar didalam hati.  Pada saat acara wisudamu, Ibu dan bapak bahkan mengajak budhe, pakdhe, bu lek, keponakan, dan adekmu untuk hadir di momen bersejarah wisuda sarjana yang engkau kirimkan. Sesampainya disana engkau berikan kejutan yang luar biasa. Berkali-kali. Tak kuduga diawal acara, namamu disebut diantara ribuan orang yang hadir dalam gedung elit itu. seketika air mata ibu mengalir membasahi pipi. Tak lama terdengar suara dari arah depan (sang pembawa acara) menyebut nama Ibu dan Bapak untuk mempersilakan naik ke podium bersamamu. Betapa waktu itu degup kencang begitu membuncah. Melihatmu menerima penghargaan dari pihak rektor dan jajaran guru besar universitas. Alhamdulillah, ingin rasanya Ibu langsung sujud syukur di atas mimbar. Itupun tak hanya sekali. Bahkan nama Ibu dan Bapak disebut dan dipersilakan selama 3 kali banyaknya. Andaikan orang-orang bisa mendengar kata hati, pastilah mereka akan mendengar bisikan keras dariku bahwa Betapa aku sangat bersyukur kepada Allah dikaruniakan anak sepertimu.

Putri kecilku, ibu baru tersadar bahwa kini engkau telah beranjak dewasa. Sepertinya baru kemaren engkau  merengek-rengek dibelikan jajan dan bermain diantara pepohonan sawah ladang. Sementara kawan sepermainamu kini banyak yang sudah melepas masa lajang. Adapula yang  menggendong buaian. Sementara engkau masih saja betah untuk mengukir mimpi dan berkarya di sana. Di sebuah kota yang katamu istimewa.

Sejatinya Ibu selalu mendukung apa yang menjadi pilihanmu. Apapun itu. tak terkecuali. namun ada satu hal Nak, dengarkan ibu. Lihatlah Ibu. Kini Ibu semakin menua. Tenaga tak sekuat dahulu. Uban putih mulai menyapu. Seringkali daya tahan tubuh melemah secara tak menentu. Saat engkau memiliki sedikit waktu senggang, maka pulanglah. Datanglah dan tengok Ibu yang saat ini berbaring lemah. hadirmu setidaknya mengobati rindu. Sering-seringlah berkunjung. Sebelum seorang pria sejati yang mengambil alih tanggung jawab Ibu dan Bapak atas engkau datang. Karena di saat engkau menikah nanti, pastilah engkau akan lebih jarang lagi datang kemari. Disaat itu, Ibu tak lagi mampu  menahanmu. Aaaahhhhhhh sudahlah. Bahkan seharusnya itu adalah tanggung jawabku. Sebagai seorang ibu selayaknya mencarikan pendamping terbaik untukmu. Dia yang akan menemanimu membangun masa depan dunia dan akhirat. Tapi apalah daya, biarlah sang waktu yang menjadi jawaban.

Di akhir bait ini akan kusampaikan padamu. Anaku sayang…………terkadang tak semua cinta itu terungkapkan lewat kata. Tak semua bisik rindu itu ternyatakan oleh bait. Dalam diam, Ibu mencintaimu. Diantara ribuan omelan ini Ibu menjagamu. Tak usah kau tahu seberapa ibu bahagia memiliki anak sepertimu. Tak perlu engkau ukur seberapa berat perjuangan yang mesti ibu korbankan. Tanpa kata, binar kebanggaan ibu atasmu selalu berpendar. Karena inilah caraku. Menyayangimu. Karena aku lah ibumu. Yang telah mengandung, merawat dan membesarkanmu. Dari dulu kini, nanti atau sampai kapanpun akan tetap sama.





Rabu, 10 Mei 2017

yeaahhh iLUSI

iLUSI

Apa yang nampak
Tak selalu nyata
Apa yang terucap
Tak melulu soal kesungguhan
Kadar niscaya dalam timbangan
Antara keraguan atau benar pilihan


Saat terucap tidak
Terselip celah untuk meng-iya-kan
Saat semua terlihat baik-baik saja
Terurai tabir kesebalikanya
Saat memastikan diri tuk jangan khawatir
Isyarat pemerian perhatian seolah berkibar
Saat terkata tuk pergi
Degup harap ingin tetap tinggal disini
Lebih lama lagi


Dan diri menjadi enggan
Kesemua hanya bayangan
Kungkungan dalam bingkai
Berbalut ilusi
Seketika waktu adalah jawaban
Patah nyatanya tak mesti soal ketertautan


Senin, 08 Mei 2017

Agriculture For A Better Life

Pertanian Lestari Sebagai Alternatif Mencegah Kerusakan SDA


Teruntuk sobat sekalian baik yg tadi blm berkesempatan hadir dalam seminar regional memperingati hari bumi, 22 april 2017 ini maupun sdah hadir namun ketinggalan paparan materi atau gagal fokus untuk mencatat, Berikut saya sampaikan point2 yg barangkali bisa dijadikan sbg wawasan.
mohon Maaf jikalau sedikit Panjang Lebar, heee
Alhamdulillah hari ini berkesempatan membersamai teman2 HIMAGRO dlm acara seminar yg berjudul "Pertanian lestari guna mencegah terjadinya eksploitasi SDA secara massif".
Dalam kegiatan ini saya berperan memandu jalanya acara sekaligus diskusi panel bersama para narasumber yg menginspirasi yakni:

1. Ir. Pulung Haryadi, M.Sc (kepala dinas pertanian Kab. Bantul) yg diwakilkan kepada Bapak  RM. Yohannes Ariwibowo.
2. Ir. Endro Waluyo (kepala bidang pengendalian kerusakan dan konservasi lingkungan BLH-DIY)
3. Bapak Iskandar Waworuntu (pelopor bumi langit institute).
4. Tantriati, S.P. selaku Moderator (insya Allah on process menjadi pendidik dan kontributor)

Ada yg cukup menarik dari seminar kali ini, ketiga narasumber menyampaikan paparanya dari perspektif yang berbeda-beda yg saling melengkapi. Okay, langsung saja.... cekidot guys..



1.   Bpk Yohannes Aribowo selaku wakil dari dinas pertanian Kab. Bantul banyak menguak tentang perspektif berbasis STRATEGIS dari assessment yg ada di Kabupaten Bantul terkait Visi, potensi dan sistem2 yg berdaya dlm pengembangan pertanian secara terpadu khususnya produk hortikultura yg menjadi jenis tanaman unggulan. Dinas pertanian memiliki point visi yakni Mewujudkan kedaulatan pangan dgn prinsip keterjangkauan dan keberlanjutan dlm mengatasi daya saing global. Ada banyak potensi yg mampu kita gali diantaranya daya dukung lingkungan, optimalisasi SDM, pengaruh climate change serta memfasilitasi pengembangan research. Dan salah satu pesan yg beliau sampaikan adalah "apa yang kita pakai saat ini, sejatinya adalah meminjam aset dari anak cucu kita di masa depan (con: air, tanah, SDA dll). Seyogyanya sbg seorang peminjam yang bijak, maka kita wajib untuk mengembalikanya dalam keadaan yg lebih baik atau minimal seperti sedia kala. Satu lagi, jangan biarkan Petani berjuang sendiri. sesungguhnya alam telah diciptakan dgn konsep keseimbanganya, sehingga ia memiliki memiliki sistem pengendali keseimbangan ekosistem secara otomatis, maka janganlah engkau rusak tatanan itu dengan perilaku yg berlebihan.
2.    Bpk Ir. Endro Waluyo, M.Si selaku ahli lingkungan du BLH DIY menyampaikan pemaparan materi dalam perspektif EKOLOGIS dan SDM. 
Beliau menyebutkan bahwa saat ini terjadinya perusakan lahan pertanian, banyak diakibatkan oleh kegiatan pembangunan yakni alih fungsi lahan secara massif sehingga menggerus lahan hujau produktif. Setidaknya di Yogyakarta saja bahkan terjadi penyusutan hingga 200 ha/tahun. Kasus pencemaran lingkungan kaitanya pertanian  memiliki 2 posisi duduk :
pertanian sbg sasaran pencemaran. Contoh sederhana dan nyatan diantaranya dgn banyaknya pembuangan sampah dan limbah di areal persawahan.
pertanian sbg sumber pencemaran. Apabila penggunaan pestisida dan pupuk buatan berlebih menjadikan sebab mengalirnya residu ke perairan hingga ikan-ikan mati, dan tanah makin tandus karena mematikan mikrobia yg bermanfaat. 
Pupuk buatan menurut beliau, sebenarnya juga diperlukan dikarenakan siklus hidrologi alam belum mampu mencukupi kebutuhan tanaman secara lengkap. Asalkan pemakaian dilakukan secara bijak disinergikan dgn pertanian organik. Salah satu pesan beliau adalah kita perlu Merubah Mindset, yakinlah bahwa petani adalah pahlawan sekaligus pemegang senjata pamungkas dunia. Bahkan sekaliber negara USA pun mengatakan demikian, bahwa senjata ampuh di tahun 2050 adalah pangan, ini menegaskan kelak di masa depan petani memegang peranan kunci masa depan. Maka dari itu SDM yg ada salah satunya para intelektual muda jangam antipati dan malu untuk jadi petani. *Berani Berinovasi* langkah yg perlu diambil guna menguatkan daya saing sekaligus solusi akan persoalan yg mencengkeram.

3.    Narasumber bernama Iskandar Waworuntu, kali ini beliau mengangkat perspektif yg cukup unik yakni PERTANIAN DAN SPIRITUALITAS.
Dalam kaitanya hal ini, beliau sedikit mengungkap akan peran manusia sbg makhluk sosial dan spiritual. Dimana saat krisis akan nilai2 kehidupan mulai pudar, kita seolah mulai tersesat akan kesesatan yg sdah ada dan lebih parahnya lagi kita menikmati "kesesatan" itu. Kita hidup di mekanisme industri yg memaksa semua daya dukung yg ada dipacu melebihi kapasitas kemampuanya demi mengejar tujuan ekonomi/keuntungan manusia semata. Akhirnya eksploitasi besar2an pun tak terkendali, sedang pembaharuan acapkali terlupakan. 
Sebagai makhluk yg diutus Allah SWT di muka bumi, perlu kiranya kita melakuakan penjagaan baik Fisik maupun Hati. 
Penjagaan fisik dapat dilakukan dgn melakukan input yg baik pada tubuh. Karena 
Sesungguhnya yg paling dekat yg dititipkan Allah kpd kita adalah tubuh. Asupan makanan ternyata tidak hanya mempengaruhi manusia secara nutritional, akan tetapu juga emosional/karakter. salah satu penelitian yg pernah dilakukan oleh seorang akademisi di UGM melalui serangkaian penelitian ilmiah, kata beliau memaparkan bahwa, "dampak paling buruk yg dirasakan oleh manusia dari makanan bersumber dari makanan industri". oleh karena itu, perlu adanya sinergi dalam upaya mendapatkan produk2 yg sehat dan baik melalui pertanian berkelanjutan tanpa mendzolimi lingkungan. Agar produk2 yg dihasilkan guna pemenuhan hajat manusia juga alami, tayyib, dan berkah. 
Pertanian lestari bukan berarti antipati akan teknologi. Permaculture yg secara bahasa artinya pertanian permanen memiliki peran dalam mengaKomodir optimalisasi sistem2 teknologi pembaharuan namun tetap mengikuti sunnatullah yg ada.


Dari penjelasan2 oleh narasumber berbagai background yg berbeda, saya mencoba merangkum bahwa sejatinya alam ini diciptakan dalam keadaan seimbang, oleh karenanya jangan usik ia dengan keserakahan. Karena sesungguhnya perilaku berlebihan bukanlah hal yang bijak, jelas telah nampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia. Kalau topik bahasan solusi atas kerusakan akibat eksploitasi SDA yg saat ini kita bahas adalah pertanian lestari yg mengakomodir berbagai potensi daya dukung dan kearifan. Maka sebagai manusia Milikilah mentalitas yg Terintegrasi, yakni memadukan antara sains dan pedoman hidup yg kita anut tanpa mengkotak-kotakannya.
Here is My Closing Statement :
Dalam prinsip pembangunan dan pertanian ada konsep yg tidak bisa diabaikan yakni prinsip Keadilan, Keadilan yg seimbang, keadilan yg berimbang, dan keadilan yang berkelanjutan.

Demikian yg dapat saya sharingkan atas ilmu yang didapatkan pada hari ini. Semoga bermanfaat.....Anyeoooooongggg

Jumat, 07 April 2017

Adakalanya

Adakalanya



Adakalanya
Sekeras batu
ia kan ber berlubang terkena ombak

Adakalanya
Seterang mentari
ia pernah redup tertutup kabut

Adakalanya
Setenang kapal berlabuh
ia oleng diterpa badai

Adakalanya
Setenang aliran air
ia riuh berdebur

Adakalanya
Sekuat hati
Sesekali ia goyah
Patah
Hilang arah

Dan saat itu kamu kan tahu
Seketika tak ada bahu yang merengkuh

Masih ada DIA tempat kita bersimpuh